Showing posts with label Uraian. Show all posts
Showing posts with label Uraian. Show all posts

Friday, December 24, 2010

Takdir jodoh

Suatu hari seorang teman mengatakan padaku makna jodoh, jodoh adalah sesuatu yang datang padamu, menjadi milikmu dan kau bisa mengambil manfaat atau pelajaran darinya, ya jodoh manusia dalam arti pasangan untuk laki2 atau perempuan atau itu berupa pekerjaan, rejeki atau apapun, tapi yang menarik ketika ia mengatakan dalam hal jodoh manusia itu memang sudah tercatat dan tersimpan dilauhmahfuz..tapi catatan jodoh ini tidak mengikat dalam arti sewaktu-waktu dapat berubah.. nah ini yang sempat membuat aku bingung... loh kenapa begitu..bukannya Allah dah bilang kalu umur, rejeki dan jodoh itu dah ditentukan sama Allah... nah ini katanya lagi umur dan rejeki itu dah dipatok sama Allah..gak bisa lagi dirubah dan ditawar2 tapi kalau jodoh.. ada dua takdir didalamnya.. takdir dari Allah dan takdir manusia.

Dalam hal jodoh manusia juga ikut andil didalamnya. Dalam arti Allah gak mutlak nentuin jodoh untuk kita..wah wah..jadi bingung yacchh.. semua ada ditangan kita sendiri..ketika kita memilih si A utk jadi pasangan kita dan kemudian kita menikah maka dialah jodoh kita.. tapi ketika ditengah jalan kita berpisah dari A entah karena sebab apa maka dikatakan jodohnya tidak panjang atau tidak langgeng..tapi apa bila kita ingin menikah dengan si A tapi ternyata si A justru menikah dengan orang lain dan tidak dengan kita, atau kita justru menikah dengan orang lain maka dikatakan belum berjodoh bukan tidak berjodoh, nah.....jadi lebih ribet??.. dan ternyata jodoh2an ini, lagi2 kita yang menentukan... ah bukannya semua yang ada dibumi dan dilangit bergerak, berkeinginan, bahkan berdiam diri semua atas kendali dan seizin Allah?? kenapa soal jodoh kok tiba2 separuhnya kita yang menentukan takdirnya ..??

“Ya Rabb.. ternyata begitu banyak hal yang tidak dapat ku mengerti dan ku ketahui... ternyata begitu rumit rahasiaMu dan manalah mungkin aku yang dhoif ini mengurai maknanya dari tiap2 kejadian yang Kau tuliskan yang tersirat atau tersurat..”

Sunday, December 19, 2010

Airmata Rasulullah SAW

Sepertinya nggak akan pernah bosan-bosan kalau
membaca yg satu ini...
untuk mengingatkan kita...
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang
berseru mengucapkan
salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam,"
kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku,
orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu
hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan
sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul
maut," kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut
datang menghampiri,
tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut
bersama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap di atas langit
dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril,
jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya
Rasululllah dengan suara
yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka,
para malaikat telah
menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata
Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan
Rasulullah lega, matanya masih
penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya
Jibril lagi. "Khabarkan
kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan
khawatir, wahai Rasul
Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: 'Kuharamkan surga
bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada
di dalamnya," kata
Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah
bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit
sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali
yang di sampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau
melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"
Tanya Rasulullah pada
Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang
sanggup, melihat kekasih
Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar
kemudian terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat
nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada
umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tidak
bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,
Ali segera
mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis-shalaati, wa
maa malakat aimaanukum
- peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang
lemah di antaramu." Di
luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan,
sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali
kembali mendekatkan
telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii,
ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi
sinaran itu. Kini,
mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma
sholli 'alaa Muhammad wa
baarik wa sallim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah
kepada kita.

NB:

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar
timbul kesadaran untuk
mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan
RasulNya mencintai kita.
Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah
fana belaka. Amin...

Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih
banyak yang menyayangimu
di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah
karena tiada lagi yang
mengasihmu di akhirat.




Friday, April 30, 2010

Ujian berat jadi blogger pemuLa ...


Ternyata jadi seorang blogger ternyata susah juga,.....
dari subuh tadi ampe skarang gk ngerti2 juga maasang toolbar buat blog ....
tp gpp, w anggap ja tu ujian bagi gw.....
lagi pula w mesti bersyukur neh banyak senior2 blogger yang dah ahli,
jadi w bisa blajar dari mereka ....

harapan we, we bisa berhasil dan bisa menjadi seperti mereka seperti pesan di gambar " your failures do not define you" .........

sukses selalu buat PARA BLOGGER INDONESIA, amin ....


Thursday, October 8, 2009

Realita kehidupan cinta anak manusia

Tanpa mengulang paparan definisi, dongeng putri raja, kata-kata mutiara, nasihat, saran dan tips jatuh cinta picisan yang sering kalian baca di berbagai media, penulis akan membicarakan cinta dalam aplikasinya yang luas, meskipun secara khusus masih berkiblat pada filosofi: cinta untuk kehidupan, diri sendiri, manusia lain, dan suatu ke-Ilahi-an spiritual.

Cinta bukan hanya penamaan suatu keadaan yang “terlihat” seperti keadaan yang dianjurkan masyarakat, karena –- seperti pada layaknya yel-yel posmodernisme - lagi-lagi itu hanyalah fragmentasi dari sebuah kepribadian massal, tanpa memperhatikan identifikasi personal manusia.

Mungkin.

Atau mungkin saja cinta adalah esensi tersendiri yang menjadi polarisasi esensi manusia. Suatu kutub yang menegaskan garis horizontal dan vertikal kemanusiaan kita.

Cinta itu akan menjadi diri. Dinta itu sendiri bukan keadaan dimana kita berada dalam cinta ketika melakukan tindakan-tindakan yang terasosiasikan dengannya, dan tidak lagi berada dalam cinta ketika kita berhenti melakukan tindakan-tindakan tersebut.

Walaupun begitu, cinta akan memberikan kekuatan untuk melakukan suatu tindakan.

Louis Leahy, dalam bukunya:

Seperti ada bahaya untuk mengacaukan pengetahuan dan cinta, maka juga ada risiko bahwa orang akan menganggap, gerakan-gerakan atau tindakan-tindakan yang biasanya mengekspresikan cinta sebagai cinta itu sendiri. Oleh karena terus menerus dikatakan dan diulangi bahwa “cinta” membuktikan diri dalam perbuatan-perbuatannya, orang sampai lupa bahwa cinta mendahului perbuatan-perbuatan dan terdapat di dalam subyek.

Lalu apakah cinta yang bukan semata-mata tindakan atributif?

Cinta adalah keterpenuhan; suatu ambivalensi dan ambiguitas refleksi rasa positif (jatuh cinta, senang, dsb) dan refleksi rasa negatif (marah, sedih, dsb). Seorang manusia yang benar-benar mampu mencintai akan lebih mengharapkan suatu keterpenuhan rasa, dibandingkan perasaan positif yang mutlak tanpa henti. Seorang manusia yang benar-benar mampu mencintai, dianalogikan sebagai kemampuan dirinya untuk menangis sambil tertawa, dan tertawa sambil menangis.

Keterpenuhan ini akan menimbulkan “rasa haru”, yang secara filosofis dijelaskan Jean Lacroix sebagai intensitas diri yang hidup. Atau merasakan diri hidup secara intensif: feeling alive, not just being alive.

cinta memiliki keindahan estetika (pada esensi) yang sama dengan rasa Pencerahan dan rasa Bahagia. cinta adalah hak istimewa manusia yang berkuasa atas suatu pilihan hidup.

Karena hanya manusia yang telah mencapai kesatuan jati diri dan kemandirian tersebut, adalah manusia yang sanggup memahami apa yang dinamakan kebahagiaan sebagai pencerahan rasa dan pikiran. Pada saat itu, seorang manusia sanggup melakukan suatu dekontruksi atribut, struktur dogmatis, dan segala kepalsuan atau kepura-puraan dalam hidupnya.

Untuk apa? Tentu saja untuk menemukan apapun yang absolut, dan tak dapat didekonstruksikan.

Jika cinta (dalam manusia) memiliki tujuan absolut yaitu Kebahagiaan, maka manusia butuh untuk menelaah sedalam-dalamnya kebenaran dari makna Kebahagiaan. Mungkin Erich Fromm bisa membantu kita sedikit dengan pernyataannya:

Kebahagiaan adalah indikasi bahwa manusia telah menemukan jawaban dari masalah eksistensi manusia: realisasi produktif dari potensi-potensinya dan juga, secara simultan, menjadi satu dengan dunia dan melindung integritas dirinya sendiri.

Dalam menghabiskan energinya secara produktif, dia meningkatkan kekuasaannya, dia membakar tanpa menjadi terbakar.

Kebahagiaan adalah kesempurnaan dalam seni kehidupan. Dari kebajikan dalam memaknainya, ia memiliki etika-etika kemanusiaan.

Tidak semua orang berpikir optimis mengenai cinta, contohnya Nietszche yang berkata bahwa pencarian terhadap cinta adalah tipikal para budak yang tidak dapat berjuang untuk apa yang mereka inginkan dan karenanya, mencoba untuk memperolehnya lewat “cinta”. Ia juga menyatakan bahwa altruisme dan cinta terhadap umat manusia adalah tanda dari degenerasi, dan mencintai orang lain hanya akan menjadi sebuah kebajikan ketika keluar dari batin, tetapi akan menjadi sangat menjijikkan jika semata-mata ungkapan dari ketidakmampuan untuk menjadi dirinya sendiri.

Meskipun begitu, sarkasme Nietszche tidak selalu berarti suatu penanda pesimisme. Nietzsche terkenal dengan gaya berfilsafatnya yang cenderung reaktif dengan apa yang terlihat pada masanya.

Niezsche mungkin bisa dianalogikan sebagai seseorang yang sedang patah hati, namun itu tidak berarti ia tidak memiliki rasa cinta yang besar dalam hidupnya. Lagipula reaksi emosi yang positif, stagnan, tanpa henti, adalah suatu kecacatan neurosis. Dan bukan “manusia”.

Lalu, mungkinkah masa yang dialami Nietszche tersebut terulang kembali?

Apakah kita sedang berada di dalam konsep cinta yang semu?

Erich Fromm, sekian puluh tahun yang lalu telah menulis: Kesulitan yang lain adalah yaitu tidak ada satu katapun dalam kekayaan bahasa kita, yang telah sangat begitu disalahgunakan dan dilacurkan seperti kata cinta.

Ia menjelaskan, terdapat dua fenomena yang berhubungan satu sama lainnya dan kadang-kadang dipresentasikan sebagai cinta (namun bukan cinta itu sendiri) : cinta masokis dan cinta sadistis. cinta masokistis, adalah ketika seseorang menyerahkan dirinya sendiri, inisiatif dan integritasnya, dengan maksud menjadi sepenuhnya tenggelam dalam diri manusia lain (atau hal lain) yang merasa lebih kuat. Ada kecemasan karena tidak merasa mampu berdiri di atas kakinya sendiri hingga harus menjadi bagian dari manusia lain (atau hal lain), agar terbebas dari perasaan tersebut; cinta sadistis, berasal dari hasrat untuk terlepas dari genggaman manusia lain (atau hal lain) dan menemukan kekuatannya dalam keadaan itu. Kekuatan dan keamanan yang dicari dan dimiliki akan serta merta memberikan kekuasaan atas orang lain.

Keduanya, cinta masokistis dan sadistis, merupakan ungkapan kebutuhan dasar manusia yang muncul dari sebuah ketidakmampuannya menjadi mandiri. Seringkali dalam hubungan jangka panjang, peran respektif menjadi permanen: seorang pasangan merepresentasikan sadistis, pasangan yang lainnya merepresentasikan kutub masokistis dalam sebuah pola hubungan simbiotik. Seringkali peran-peran tersebut bergerak secara konstan: sebuah lingkaran untuk pendominasian dan kepatuhan agar tetap dianggap sebagai cinta.

So, are you the chicken or the pig in this bacon and egg relationship?

Sadistis, masokistis, bukankah itu cinta? Untuk menikmati dan menderita dengan segala hasrat manusiawinya?

Tidak. Ketika seseorang belum terlepas dari kecemasan, ketidakmandirian, keterbatasan, dan ketakutan bahkan kebencian pada dirinya sendiri, atau bahkan ia belum menyadari dirinya dalam keadaan tersebut, maka ia belum dapat meyakini fenomena tersebut sebagai cinta dalam arti sesungguhnya.

Manusia yang masih berada dalam representasi semu tersebut, biasanya menganggap kemandirian pola pikir dan pola rasa manusia dalam mencari kebenaran cinta hanyalah labirin tikus yang menyebalkan.

Namun, benar. cinta adalah keterpenuhan rasa untuk menikmati dan menderita dengan segala hasrat manusiawi, dengan dilandasi kemandirian, kebebasan dan kesetaraan.Lalu mengapa kemandirian pola pikir dan pola rasa? Mengapa manusia perlu mendapatkan eksistensi akan diri terlebih dahulu, sebelum menjadikan cinta sebagai bagian dari esensi?

Agar terlepas dari ilusi representasi cinta itu sendiri: sesuatu yang menjijikkan, menurut Nietzsche.

Ketika seseorang, secara internal, tidak merasa nyata dalam tempurung pengakuan sosial, kelembutan, keyakinan, pujian, rasa aman, dan kecintaan diri, dari dirinya sendiri. Ia akan mencarinya dengan menjadi bagian dari eksistensi eksternal.

Mari kita analogikan rutinitas tindakan cinta itu sebagai hasil formalisasi masyarakat akan arus libido yang besar. Freud mengibaratkan libido seperti arus sungai besar, namun tertutup di hulu, karena tekanan yang besar tersebut maka terbentuk anak-anak sungai sebagai pelepasannya. Jika Freud mengharafiahkan sungai besar libido sebagai hasrat seksual itu sendiri, Penulis berpendapat bahwa hasrat seksual itu semata-mata sebagai salah satu anak sungai. Libido disini adalah hasrat manusia untuk berafeksi dengan eksistensi dirinya, dunianya dan keterpenuhan psyche itu sendiri: to fight, to flight, to love.

Manusia akan selalu bersama driving force-nya. Dahulu kala, driving force tersebut telah menyanggupi manusia untuk berburu binatang yang jauh lebih kuat darinya, membangun istana, candi bahkan tembok-tembok besar, atau menjadi nabi dan menyebarkan dialektika mengenai ketuhanan.

Driving force manusia telah berevolusi hingga teramat sekian rumitnya masa kini. Sedemikian rumit, karena sedemikian banyak anak-anak sungai yang terbentuk. Semakin besar kapasitas kita untuk mencintai, semakin kita ingin melumpuhkannya dengan melakukan hal-hal yang insignifikan berhadapan dengan pola rasa. Insignifikansi bertopeng reward, tentunya.

Evolusi untuk menjadi lebih rumit, atau lebih bodoh?

Erich Fromm menyatakan bahwa hambatan lain yang masih ada dalam mencintai kehidupan adalah semakin meningkatnya pembirokrasian dalam aktivitas-aktivitas kita. Fakta yang paling esensial, adalah bahwa demi efisiensi ekonomi yang maksimal, kita cenderung memotong setiap individu dari ukuran asli sehingga memungkinkannya untuk menjadi suatu kelompok; efisien, disiplin, tetapi bukan karena dirinya sendiri; tidak sepenuhnya hidup, dan karenanya terlumpuhkan dalam kapasitasnya untuk mencintai kehidupan.

Apakah cinta itu akan selamanya tertidur dalam suatu pembirokrasian yang efisien dan disiplin: kemegahan nisannya?

Manusia mungkin telah melupakan bahwa suatu atribusi “yang dinamakan” bukanlah entitas itu sendiri.

Penulis akhiri wacana ini dengan kutipan yang mana bagi penulis adalah alinea-alinea terbaik dari seorang Erich Fromm:

Satu pertanyaan tidak boleh diabaikan: Anda mungkin cemas apakah semakin orang mencintai kehidupan maka semakin orang itu menderita dari serangan tentang kebenaran, kecantikan, integritas dan kehidupan, terutama untuk saat ini?

Tapi, untuk menyelamatkan diri sendiri dan rasa sakit dengan menjadi tidak peduli dengan kehidupan, hanya menghasilkan rasa sakit yang lebih besar. Setiap orang yang benar-benar tertekan dapat mengatakan kepada Anda, untuk merasa sedih akan menjadi sebuah kelegaan daripada tidak mempunyai perasaan apa-apa. Kebahagiaan bukanlah hal yang penting dalam kehidupan, tapi gairah hidup. Menderita bukanlah hal yang terburuk dalam kehidupan, tapi ketidakpeduliannya.

Jika kita tidak merasakan apa-apa, berarti kita dibodohi. Sejauh dalam peradaban manusia, menderita selalu menjadi bidan perubahan. Haruskan, untuk pertama kalinya, ketidakpedulian menghancurkan kapasitas manusia untuk mengubah takdirnya?.

Cinta adalah suatu esensi.
Suatu kesatuan estetika. Suatu kesatuan eksistensi. Yang menjadi diri.

Monday, August 31, 2009

"Mata - Hati"

Apa yang dilihat oleh "mata", apakah sama dengan apa yang dilihat oleh "hati" ?
Apa yang dikatakan oleh "mulut" apakah sama dengan apa yang dikatakan oleh "hati" ??
Kenapa "mereka" terkadang harus berbeda ??? dan saling mengingkari ????
Kenapa rasa dan logika memiliki mata dan objek yang berbeda ???

Apakah bener demikian ... ? ?

Sunday, August 9, 2009

"Lebih peduli terhadap alam"

Ramadhan kembali menyapa kita, dengan segala keindahan dan wangi surganya..siapakah yang tidak merasainya? ramadhan selalu identik dengan saatnya berbagi terhadap sesama, meningkatkan rasa saling tenggang rasa, saling menghormati dan menghargai dan masih banyak lagi hal lainnya dalam hubungan hamlum minnannas... aku merasa perlu menambahkan disini bagaimana hubungan kita dengan alam. ya, bahwa alam adalah mahluk Allah juga..sudahkan kita menambah kepedulian kita pada alam atau setidaknya lingkungan kita di bulan Ramadhan ini? andaikan momentum Ramadhan dipakai juga untuk lebih menghargai alam tentulah kita tidak perlu menuai banyak bencana seperti yang kita rasakan akhir2 ini, andaikan kita lebih bersahabat dengan alam tentu anak cucu kita tidak perlu menghirup berjuta polutan yang akhirnya hanya merusak fungsi organ tubuh kita.
Baiklah, tanpa perlu berpanjang lebar, marilah kita mulai dari diri kita sendiri dengan menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan hal sepele tapi kenapa selalu didengungkan??, ingatkah anda ketika memakai tissu dan saat itu anda sedang berada ditempat umum, kemanakah tissu bekas pakai itu anda buang, saya yakin sedikit sekali yang akan menjawab mencari tempat sampah untuk membuang tissu itu, mulai sekarang ketika anda tidak menemukan tempat sampah tahanlah diri anda untuk membuang tissu itu kesembarang tempat, masukkan tissu bekas itu ke saku atau tas anda, dan buanglah ke tempat sampah ketika anda menemukan tempat sampah atau ketika anda berada di rumah, hal kecil yang bila ratusan juta penduduk indonesia mempraktekkannya niscaya kita tidak perlu membayar ratusan atau ribuan orang penyapu jalan atau tukang sampah.
Momentum ramadhan kali ini jadikan diri anda sebagai pioner untuk memperbaiki diri lebih kasih terhadap sesama terlebih kepada alam, mulailah dari hal kecil karena berbuat kebaikan walaupun kecil tidak akan sia-sia bukankah gunung juga asalnya dari kerikil yang kecil?
masih banyak hal kecil lainnya yang dapat kita lakukan demi terpeliharanya alam ini..semoga.

"Mutiara Hati "

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Qs. Ar-Rahmaan)

"Dzikir itu menghidupkan hati. Dzikir bagi hati, ibarat air bagi ikan, bagaimana kondisi ikan jika terpisah dari air?" (Ibnu Taimiyah)
"Sebagian manusia berbuat maksiat bukan karena tidak tahu atau ingin mengkhianati Allah, tapi karena hawa nafsunya telah mengalahkan akalnya." (Ibnu Qoyyim al Jauziyah)

"Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tapi lihatlah kepada kebesaran Zat yang engkau lakukan kemaksiatan terhadapNya." (Bilal bin Rabah r.a)
"Sesungguhnya harta yang palig berharga ialah lidah yang senantiasa berzikir, hati yang senantiasa bersyukur dan istri soleha yang dapat menolong suami menguatkan imannya." (HR.Tarmidzi)

"Orang yang cerdas ialah orang yang taqwa. Orang yang dungu ialah orang yang durhaka. Orang yang dusta ialah orang yang khianat. Orang yang benar ialah orang yang dipercaya." (Khalifah Abu Bakar r.a)

Dari Anas r.a doa Rasulullah, "Ya Allah, aku berlindung pada Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, sia-siakan usia dan dari sifat kikir." (HR. Muslim)

"Akar dari kesalahan itu ada tiga. Pertama kesombongan, itulah yang menyebabkan iblis mengalami apa yang ia alami. Kedua, keserakahan, dan itulah yang mengeluarkan Adam dari surga. Ketiga, kedengkian, dan itulah yang menjadikan salah satu anak Adam membunuh saudaranya. Maka barang siapa berlindung dari keburukan tiga akar kesalahan itu, sesungguhnya ia telah melindungi dirinya dengan sebenar-benarnya. Karena kekafiran itu bersumber dari kesombongan. Karena kemaksiatan itu sumbernya keserakahan. Sedang kezaliman itu sumbernya kedengkian." (Ibnu Qoyyim)

Rasulullah SAW bersabda "Tiga hal yang aku takutkan bila terjadi pada umatku: kesalahan seorang ulama, hukuman tidak adil yang diberikan oleh penguasa yang dzalim dana hawa nafsu yang selalu diperturutkan." (HR. As Syihaab)

"Mengemis cinta"

Dahulu pernah aku menaruh simpatik

kepada manusia yang apapun kulakukan

lalu terseretlah aku dilorong derita

luka hati yang berdarah

kini jadi kian parah

semalam sudah sampai ke penghujungnya

dosa beribu dosa kuharap sudah berlalu

tak ingin lagi kuulangi kembali

berat dosa yang mengiris hati

Tuhan dosaku menggunung tinggi

tapi rahmatMu melangit luas

harga selautan syukurku

hanyalah setitik nikmatMu di bumi

Tuhan walau tobat seringku mungkin

namun pengampunanMu tak pernah berhenti

bila selangkah ku datang padaMu

seribu langkah Kau datang padaku